Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

Kay Rala Xanana Gusmao: "Saya Menaruh Harapan pada Amien Rais"

Tanggal 12 November tujuh tahun silam. Mata dunia menyorot sebuah peristiwa Dili, sebuah kejadian yang di kemudian hari disebut sebagai tragedi Santa Cruz, suatu peristiwa yang kemudian menyebabkan puluhan warga Timor Timur (Timtim) tewas. Peristiwa itu dimulai dengan sebuah misa pemakaman Sebastiao Gomes di Gereja Motael, yang tewas akibat kerusuhan 28 Oktober. Upacara khidmat itu kemudian berubah menjadi arena unjuk rasa karena kebetulan Komisi Hak Asasi Manusia PBB tengah berkunjung. Unjuk rasa yang kemudian diakhiri dengan penembakan terhadap anak-anak muda Timtim itu hingga kini menjadi sebuah luka yang tak mudah dilupakan.

Lalu, di manakah sosok Xanana Gusmao saat itu?

Menurut pemerintah Indonesia, Xananalah yang melakukan provokasi dalam insiden ini. Sebagai pimpinan tertinggi Falintil--pasukan gerilyawan yang menginginkan Timtim merdeka--Xanana hari itu tengah berada di dekat Dili. Tapi apakah memang dia yang berperan? Bagi Xanana, yang bernama lengkap Kay Rala Xanana Gusmao, peristiwa itu adalah satu kejadian yang menimbulkan perasaan yang campur aduk. Setiap kali ia mengingat apa yang disebutnya sebagai tragedi Santa Cruz, "Ada rasa sedih. Namun, seiring dengan waktu, kepedihan itu menguap. Dan kami harus berjuang kembali," ujar Xanana.

Lucunya, meski sudah jelas Xanana dianggap pejuang di mata warga Timtim, ia tak lebih seorang dari kriminal senjata api dan bos gerombolan pengacau keamanan (GPK) di mata pemerintah Indonesia.

Penjara Cipinang, tempat ia menjalani total hukuman 20 tahun, menjadi saksi betapa populernya pria kelahiran Manututo, 20 Juni 1946 ini. Pada hari Rabu dan Minggu komandan Falintil ini sibuk meladeni puluhan tamu dari dalam dan luar negeri. Ze, sebutan akrab Xanana, tak ubahnya selebriti yang menghadapi puluhan penggemar. Di LP Cipinang Xanana biasanya muncul di ruang besuk pukul 10.00 dan menyapa tamu-tamunya dalam bahasa Tetum, Portugis, Inggris, atau Indonesia, tergantung kepada siapa ia berbicara. Khusus untuk teman-teman dekat dan kerabat, ada tambahan bonus: pelukan dan ciuman.

Pria setinggi 178 cm ini memang tampan dan rapi, jauh dari kesan gerilyawan yang pernah 18 tahun hidup di hutan-hutan di berbagai kawasan pegunungan Timtim. Pencinta sepak bola itu menjalani kehidupan yang berbeda di dalam bui dibandingkan dengan kehidupan belasan tahun di hutan bersama dengan tentara Falintil. Di Cipinang ia bisa lebih tenang memikirkan rencana yang digagasnya sejak 1975: Timor Leste Merdeka (Timor Timur Merdeka).

Perjalanan Presiden Conselho Nacional Resistencia de Timorese (CNRT) atau Gerakan Perlawanan Nasional Rakyat Timtim ke Cipinang itu adalah akhir dari safari panjang di hutan-hutan kawasan pegunungan Timtim, di mana Xanana berseteru dengan tentara Indonesia selama 16 tahun. Perlawanannya patah pada Jumat subuh, 20 November 1992. Di sebuah rumah di desa Labane Barat, Dili, pasukan baret merah pimpinan Kapten Teddy Laksamana menyergap bos gerilyawan Falintil itu, yang baru selesai mandi.

Tanggal 20 Mei 1993 ia divonis hukuman bui seumur hidup--dikurangi menjadi 20 tahun tahun penjara oleh grasi Presiden Soeharto pada 17 Agustus 1993--oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Dili. Ia sempat dikurung di Lembaga Pemasyarakatan Kedungpane, Semarang, sebelum akhirnya dipindahkan ke Cipinang pada pertengahan 1993. Xanana mengaku rindu benar kembali ke Timtim. Ia mencintai keindahan bukit-bukit di seputar Baucau, yang amat akrab dengannya semasa ia di hutan. Sesekali, bila kenangan melankolik pada tanah kelahirannya itu tak lagi tertahankan, ia menuangkan perasaannya dengan melukis. Berikut adalah petikan wawancaranya dengan wartawan TEMPO Yusi A. Pareanom, Leila S. Chudori, dan Hermien Y. Kleden.

Apa yang sebenarnya terjadi di Santa Cruz tanggal 12 November 1991?

Pembantaian Santa Cruz tidak bisa dianggap peristiwa yang berdiri sendiri. Kita harus melihat kejadian-kejadian sebelumnya. Saat itu kami sedang mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan parlemen Portugal. Ini kesempatan terbaik untuk memberitahukan pada dunia tentang keinginan kami, yaitu menentukan nasib sendiri.
Apa yang sesungguhnya direncanakan saat misa pemakaman di Santa Cruz?

Anak-anak muda ini menemui saya di tempat persembunyian di Dili. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan. Setelah berunding, kami sepakat untuk melakukan pemakaman secara damai bagi korban yang jatuh. Lagipula banyak orang yang sembunyi karena ngeri. Namun kami meremehkan ABRI. Kami tidak menyangka bahwa militer bisa bertindak sekejam itu di Santa Cruz. Saya betul-betul tidak percaya ini bisa terjadi. Sebab, secara psikologis, saya berpikir tak mungkin ada insiden, mengingat saat itu Indonesia tengah jadi sorotan setelah batalnya kunjungan parlemen Portugal. Ternyata saya keliru.
Anda menyesal telah salah perhitungan?

Tidak. Saya tidak menyesal, hanya merasa sakit bahwa peristiwa itu bisa terjadi.
Apa yang mereka lakukan dalam persiapan ini?

Biasalah, anak-anak muda itu ingin membuat aksi yang hebat-hebat. Saat itu saya juga tahu bahwa intel militer telah mengawasi perkembangan situasi. Namun tiba-tiba pada saat-saat terakhir Jakarta melarang delegasi Portugal itu datang, dengan argumen yang tidak dapat diterima.
Saat penembakan itu berlangsung, Anda berada di mana?

Di dalam kota Dili tidak jauh dari Santa Cruz. Saya bisa mendengar letusan senjata. Saya berpikir, "Oh, my God, now they are killing my people." Bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa demonstrasi damai harus dilawan dengan kebrutalan? Saya menitikkan air mata. Tapi pasukan gerilya saya datang dan berkata pada saya, "Kakak, jangan menangis."
Apakah pasukan Anda tidak membalas tembakan?

Tidak. Sebagai pasukan gerilya mereka tahu apa yang harus dilakukan. Saya sendiri bukan ahli gerilya.
Di mana para korban dimakamkan?

Di dua tempat. Pertama, di Hera, lima kilometer sebelah timur Dili. Kedua, di sebelah barat Dili. Palang Merah Internasional berusaha mengikuti kendaraan yang mengangkut jenazah tapi akhirnya tercecer. Terus terang, kami tidak tahu pasti di mana letak yang sebenarnya. Terlalu banyak kamuflase. Jalan-jalan yang akan dilewati truk pengangkut jenazah sudah dilubang-lubangi, sehingga sulit diikuti.
Ada keluarga Anda yang menjadi korban?

Tidak. Tetapi mereka semua adalah "keponakan" saya.
Tampaknya Anda saat itu bisa leluasa bergerak di Dili?

Jaringan klandestin kami sangat rapi. Semua terselubung. Mereka hanya mengizinkan saya bergerak di dalam kota bila semuanya sangat aman.
Apakah Anda punya peran dalam penembakan massal di Santa Cruz?

Saya punya peran? Anda bercanda. Pemerintah Indonesia memang menuduh saya memprovokasi penembakan itu.
Apa sekarang strategi perjuangan Anda?

Saat ini kami sedang mencoba segala cara untuk menyosialkan permasalahan Timtim ini. Saya sadar, tidak semua orang paham dengan yang sebenarnya terjadi di sana. Maka bantuan media massa akan sangat berarti. Kami punya kekuatan moral. Bila kami gagal, kami yakin anak cucu kami akan meneruskan. Tetapi sepertinya saatnya kok sudah dekat (wajah Xanana terlihat cerah).
Dari mana datangnya keyakinan ini?

Setelah reformasi, ada tanda-tanda nasib Timtim akan membaik. Saya yakin, paling lama 20 tahun dari sekarang, kami sudah bisa merdeka. Apalagi kalau Megawati atau Amien Rais yang menjadi pemenang pemilu. Bisa-bisa hanya sampai tahun 2000, ha-ha-ha....
Anda masih percaya dengan perlawanan bersenjata?

Sejak 1987 atau 1988 kita sudah tahu bahwa tidak mungkin kita mampu mengusir ABRI dari Timor dengan senjata. Namun perlawanan senjata bukannya tidak mempunyai arti. Perlawanan senjata memiliki tempat tersendiri dalam kondisi ini.
Apa komentar Anda soal otonomi yang ditawarkan pemerintah Habibie kepada Timtim?

Dalam hal ini, sebetulnya saya tidak bisa berbicara sebagai pribadi. Saya harus berbicara berdasarkan keinginan rakyat. Otonomi itu tidak penting. Yang penting adalah niat baik (dari pemerintah Indonesia) yang harus kami hormati. Otonomi ini, menurut saya, harus dilihat sebagai periode transisional. Kami harus membuktikan kemerdekaan tidak akan datang kalau kita tidak melakukan sesuatu. Dan kemerdekaan itu tidak bisa diperoleh secara drastis. Dalam rangka itulah kami memegang komitmen tentang otonomi sebagai suatu usaha yang berkesinambungan ke arah Timor Leste Merdeka.
Jadi, otonomi ini diterima sebagai bagian dari perjalanan menuju referendum?

Otonomi itu kami terima sebelum referendum disetujui untuk dilaksanakan. Pada dasarnya kami mau meyakinkan rakyat Indonesia bahwa persoalan ini adalah masalah antara pemerintah RI dan kami, orang Timtim, bukan antara orang Timtim dan seluruh rakyat Indonesia.
Seandainya referendum itu dilaksanakan dan rakyat memilih integrasi. Apa yang akan Anda lakukan?

Tentu kami harus mengikuti kehendak rakyat Timtim, kendati secara pribadi saya tidak percaya rakyat akan memilih integrasi dengan Indonesia.
Anda akan meninggalkan Timtim seandainya integrasi menjadi suara mayoritas?

Kenapa harus pergi? Saya akan tetap tinggal di Timtim. Pada dasarnya kami bukan antiintegrasi. Yang kami lawan adalah cara-cara pemerintah Indonesia memaksakan ide integrasi dengan cara represif.
Apa yang akan Anda lakukan pada orang-orang Timtim prointegrasi jika pada akhirnya rakyat Timtim menolak integrasi?

Kami selalu mengatakan pada segenap rakyat Timtim bahwa dalam perjuangan (untuk mencapai kemerdekaan) kami belajar dari banyak hal: kesalahan kami (Timtim) pada masa lalu serta pengalaman negara lain, termasuk dalam hal rekonsiliasi nasional. Rekonsiliasi nasional hanya bisa terjadi bila semua orang bisa duduk dengan rendah hati serta tahu dan mengakui kesalahan sendiri. Semua rekonsiliasi nasional harus dimulai dari jalur politik, bukan jalur hukum. Banyak orang yang kehilangan sanak-keluarga selama masa perang. Kalau kita memikirkan semua pembunuhan yang terjadi, kita terbakar oleh rasa marah dan dendam.
Apakah itu artinya Anda juga akan memaafkan sosok seperti Gubernur Abilio Soares, yang dikenal sangat berpihak kepada integrasi?

Saya tidak mau menyebut nama per nama. Ada orang-orang yang saya istilahkan punya "tangan penuh darah". Ada yang punya "tangan penuh rupiah". Ada lagi yang punya tangan "penuh rupiah berdarah". Terhadap semua itu saya bisa mengatakan dengan ikhlas, "We have no revenge".
Dibandingkan dengan beberapa publikasi yang pernah Anda buat beberapa tahun silam, sikap ini terdengar bijaksana. Apakah penjara telah mengubah Anda?

Saya sering merenung bahwa yang paling penting dari seluruh perjuangan ini adalah Timor Leste Merdeka. Untuk mencapai itu kami harus bisa melupakan hal-hal yang kurang penting.
Perubahan sikap Anda ini apakah karena Anda merasakan ada perubahan tertentu dalam sikap pemerintah Indonesia?

Reaksi kami sangat bergantung pada aksi-aksi yang dilancarkan pemerintah Indonesia. Jika pemerintah Indonesia mengajak bicara baik-baik, ya kita ladeni. Kalau di sana mengajak bicaranya dengan cara keras kepala, tentu reaksi kami pun tidak lebih dari itu, yaitu sebagai orang yang keras kepala.
Perubahan sikap apa yang Anda rasakan dari rezim baru ini?

Yang amat saya hargai adalah perubahan sikap Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Sebelum reformasi, Ali Alatas hanya mau berunding dengan suatu kondisi, yaitu Portugal harus menerima integrasi Timtim dengan Indonesia. Namun dalam perundingan segi tiga Agustus lalu, di New York, yang dihadiri Menlu Ali Alatas, Sekjen PBB Kofi Anan, dan Menlu Portugal Jaime Gama, saya lihat Alatas sudah bisa berunding tanpa persyaratan itu. Hal ini merupakan perubahan dari pemerintahan Habibie, meskipun memang belum ada perubahan yang berarti menyangkut hal-hal yang lebih.
Anda menyebut-nyebut perlunya saling memaafkan dalam proses rekonsiliasi. Kesalahan apa dari tentara Falintil yang membuat mereka perlu meminta maaf?

Apa saja yang sudah dituduhkan harus kita jernihkan. Ada dosa kolektif yang harus ditanggung oleh dua belah pihak. Harus ada pendekatan baru dalam sikap menuju proses (perundingan) baru.
Anda berjuang di hutan lalu masuk penjara sebagai kriminal. Sedangkan Ramos Horta hidup bebas di luar negeri, lalu mendapat Hadiah Nobel pula. Komentar Anda?

Dia telah memperjuangkan apa yang menjadi bagiannya. Ketika pecah perang di Timtim, Ramos dan kawan-kawan lain kebetulan sedang ke luar negeri. Dan mereka terus berada di sana, berjuang dalam jaringan internasional. Orang mengatakan banyak hal yang buruk tentang Ramos Horta. Misalnya, katanya, ia suka memainkan uang. Itu tidak benar. Kami sama-sama berjuang. Dia berjuang di luar negeri, saya berjuang di sini. Kami sangat dekat, ibarat jiwa dan raga yang tak terpisahkan. I am the body and he is the soul.
Anda tidak keberatan dengan gaya Ramos Horta yang cenderung bermewah-mewah?

Kami dapat menerimanya karena ia sedang dalam misi bangsa kami. Dan tentu saja kami tidak bisa meminta ia untuk berpakaian seperti gembel. Ingat, ia dalam misi diplomatik. Di hutan saya berpakaian seragam tentara. Tapi di sini saya tidak bisa diminta memakainya bukan?
Bagaimana Anda mendorong anak-anak muda Timtim menerima ide Timor Leste Merdeka yang belum ketahuan bentuknya?

Anda jangan menyangka pemuda-pemuda Timtim itu seperti pemain sinetron. Mereka sudah biasa hidup susah. Mereka datang belajar ke Jawa dalam keadaan serba kekurangan, tapi mereka bertahan. Tahun 1990-1992 di Timtim ada semacam gerakan perjuangan di kalangan pemuda Timtim untuk melawan tentara Indonesia. Para pemuda Timtim sudah berjuang sejak berada dalam kandungan ibunya. Ketika ibu mereka menangis karena kekejaman tentara Indonesia, tangis itu menjadi national anthem bagi orang Timtim.
Ada kesan para pemuda Timtim itu "keporto-portoan". Mereka, misalnya, memilih lari ke Portugal, padahal Portugal kan pernah menjajah Timtim selama ratusan tahun?

Saya rasa hal itu tak dapat dipisahkan dari hubungan politik, sejarah, dan budaya. Dalam hubungan dengan perjuangan Timtim Merdeka kami merasa paling banyak mendapat dukungan dari Portugal. Negara-negara Barat yang hebat-hebat itu, yang kampiun demokrasi, tidak mau berhadapan dengan Indonesia bila bicara soal perjuangan demokrasi bagi tanah air kami. Adapun Portugal lain, tetap mendukung perjuangan kami. Portugal memang pernah menjadi menjajah Timtim. Dan hubungan kami pada masa itu adalah hubungan antara penjajah dan orang terjajah. Kami memang tidak punya memori tentang kemerdekaan di bawah penjajahan Protugal, tapi kami pernah mengalami masa-masa yang lebih baik. Portugal sebagai penjajah tidak merusak kebudayaan kami. Di kota, misalnya, yang berlaku memang hukum pemerintah penjajah. Tapi di desa-desa yang berlaku adalah hukum adat.
Bila Timtim akhirnya merdeka, kira-kira bahasa nasional apa yang akan digunakan?

Bahasa Tetum akan menjadi bahasa nasional. Untuk bahasa resmi kami akan menggunakan bahasa Portugis. Sedangkan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia akan menjadi bahasa bisnis.
Anda punya perkiraan, kapan bisa bebas?

Saya menaruh harapan pada Amien Rais. Bila ia menjadi presiden pada tahun 2000, saya yakin saya bisa bebas kembali.
Kenapa Amien Rais?

Karena ia meletakkan demokrasi menduduki tempat yang tinggi dalam platform pendirian partainya. Jika orang menaruh demokrasi pada tempat setinggi itu, masa ia membiarkan begitu saja orang yang memperjuangkan demokrasi bagi tanah airnya?
Anda punya kontak dengan Amien Rais?

Sejauh ini belum ada.
Ada kabar yang menyebutkan Anda pernah bertemu Habibie atau utusannya Habibie.

Belum. Habibie kan terlalu tinggi. Tentu saja saya ingin (bertemu Habibie), tapi tidak ada tanda-tanda bahwa saya dianggap dapat membantu penyelesaian Timtim. I'm a criminal, remember? Ha-ha-ha. Tapi kalau betul ia mau bertemu dengan saya, saya akan senang.
Saat bertemu dengan Nelson Mandela, apa saja yang Anda bicarakan?

Pertemuan dengan Mandela itu sangat bernilai. Apalagi beliau bisa melakukan itu pada zaman pemerintahan Soeharto. Perhatian dari beliau menunjukkan perjuangan rakyat kami tidak sia-sia. Dalam pembicaraan itu ia menyatakan dukungan pada penyelesaian yang adil. Mandela juga menasehati untuk memperhatikan masalah rekonsiliasi nasional. Beliau berkata, tanpa merangkul semua, penyelesaian itu tidak akan terjadi.
Apakah Anda pernah mengalami penyiksaan selama dalam tahanan?

Secara fisik, tidak pernah. Tetapi secara psikologis mereka menganiaya. Pada waktu pertama kali saya ditangkap, tentara tidak memberi kesempatan saya untuk tidur. Itu membuat saya kehilangan kapasitas untuk berpikir dan berkonsentrasi. Perlakuan ini saya terima di Denpasar dan di markas Bais (Badan Intelijen Strategis). Saya dipaksa mengaku menjadi warga negara Indonesia, makanya saya sempat menolak diwawancarai.
Bagaimana dengan tuduhan bahwa Anda bertanggung jawab terhadap terbunuhnya tentara Indonesia?

Saya bilang pada mereka bahwa itu benar. Bahkan saya mengakui semua aktivitas yang dilakukan gerilyawan. Masalahnya, saya adalah komandan mereka.
Bagaimana hubungan Anda dengan Uskup Belo?

Secara politis, sangat bagus. Kami memberi dukungan satu sama lain karena tujuan kami satu, yakni: memerdekakan tanah air kami. Pidato Uskup Belo saat menerima Nobel sangat bagus ketika menyebut bahwa semua umat manusia terlahir merdeka.
Apakah Anda tidak merasa kehilangan keluarga selama ditahan?

Tentu saja saya merindukan mereka. Tetapi rakyat Timor telah mengembangkan perasaan baru bahwa keluarga sendiri tidak lagi sedemikian berharganya seperti halnya dalam kehidupan normal. Keluarga hanya bagian kecil. Coba lihat "adik perempuan" saya ini (Xanana menunjuk salah seorang pengunjung. Bagi Xanana semua pengunjung dari Timor adalah saudaranya). Suaminya saat ini telah mengalami kerusakan mental yang sangat berat. Ia menerima siksaan apa saja yang pernah terlintas di otak manusia. Saat ini suami adik saya ini sedang menjalani masa tahanannya. Dia datang ke sini untuk minta tolong karena ia mengalami kesulitan dalam membiayai anak ke sekolah. Saya nanti mengatur agar adik saya yang lain bisa membantu. Nah, mendengar kesulitan yang semacam ini, kecemasan terhadap anak sendiri berkurang. Apalagi anak saya sekarang di luar negeri menjalani kehidupan yang lebih baik dan tanpa teror.
Kapan Anda terakhir bertemu dengan keluarga?

Pertemuan terakhir dengan anak-anak tahun 1996, ketika mereka menjenguk ke sini. Sedangkan istri saya datang tahun 1994.
Apa perbedaan perlawanan yang dilakukan semasa penjajahan Portugal dan sekarang?

Yang paling membedakan adalah kondisi represifnya. Zaman Porto setelah pendudukan Jepang selesai, kami telah mendengar bahwa Angola dan jajahan Porto yang lain telah merdeka. Kami bukannya tidak mau merdeka, tapi belum merasa mampu pada saat itu. Maka perlawanan yang kami lakukan lebih pada perlawanan di bidang budaya dan sosial, yang sifatnya lebih teoretis, misalnya kami enggan mematuhi peraturan yang ini atau itu dan kami juga tidak mau membayar pajak. Namun saat itu situasinya tidak represif. Setelah tentara Indonesia masuk, yang kami hadapi adalah senjata.

Sumber Majalah Tempo Online, 10 NOVEMBER 1998
Link source:
[ baca selengkapnya ....... ]

Senin, 06 Februari 2012

Gatot Purwanto: Kami Saat Itu Serba Salah

TIMOR Leste dan Kolonel (Purnawirawan) Gatot Purwanto, 62 tahun, adalah dua cerita yang berkelindan. Mantan perwira Komando Pasukan Khusus ini bisa dikatakan selalu ada dalam rangkaian peristiwa berdarah di bekas provinsi ke-27 Indonesia itu. Sejak awal karier kemiliterannya, Gatot sudah bersentuhan dengan Bumi Loro Sae. Tragisnya, pengabdiannya pun berakhir di sana. 
Pada awal invasi Indonesia ke Timor Timur pada 1974-1975, Gatot bolak-balik masuk Timor Portugis, menyamar sebagai penjual bahan makanan. Wajahnya yang mirip peranakan Tionghoa, perawakannya yang ramping, dan pembawaannya yang menyenangkan, membuatnya mudah menyelinap ke mana saja. "Saya dipanggil Aseng di sana," katanya tertawa. 
Di dalam wilayah Timor, dia wira-wiri menjalin kontak dengan kekuatan politik lokal dan mengumpulkan informasi intelijen. Dia satu-satunya perwira Indonesia yang bisa masuk ke sarang Fretilin di dalam hutan, dan berbicara langsung dengan pemimpin gerilyawan Xanana Gusmao. 
Peristiwa Santa Cruz, 12 November 1991, mengakhiri kariernya yang cemerlang. Sebagai Asisten Intelijen Komando Pelaksana Operasi (Kolakops) Timor Timur, dia dinilai turut bertanggung jawab atas kegagalan militer mengantisipasi demonstrasi yang berubah rusuh kala itu. Tentara Indonesia dituduh menembak massa dengan membabi buta, menewaskan lebih dari seratus orang. Gara-gara insiden itu, Gatot diberhentikan dari dinas militer. 
Salah satu peristiwa berdarah yang membekas di ingatannya adalah penyerbuan Balibo. Gatot, yang berpangkat letnan satu ketika itu, menyaksikan bagaimana lima jurnalis dari Channel 7 dan Channel 9: Greg Shackleton, Tony Stewart, Gary Cunningham, Brian Peters, dan Malcolm Rennie, ditangkap dan ditembak. 
Kelima wartawan itu tengah meliput penyerbuan pasukan gabungan UDT dan Apodeti-dua partai rival Fretilin saat itu-yang dibantu tentara Indonesia, ke Balibo, pada Oktober 1975. "Nasib saya kok selalu terlibat dalam peristiwa berdarah di Timor Timur," kata Gatot, setengah menyesal. 
Akhir pekan lalu, setelah menonton film Balibo karya sutradara Robert Connoly, di Teater Utan Kayu, Jakarta Timur, Gatot memberikan kesaksiannya tentang peristiwa itu kepada Arif Zulkifli, Wahyu Dyatmika, Sunudyantoro, Yophiandi, dan Agus Supriyanto dari Tempo. 
Anda ada di Balibo tatkala kelima wartawan Australia tewas tertembak. Apa yang terjadi? 
Pertempuran saat itu belum selesai. Memang sudah agak mereda, tapi masih ada tembakan sesekali. Di pinggiran Kota Balibo, dekat gereja, sedikit di atas bukit, ada rumah-rumah gubuk. Kami menembak ke arah itu, karena memang ada tembakan dari sana. Saat makin mendekat ke arah rumah, kami temukan kelima orang ini di salah satu rumah. Jadi, ketika tertangkap, mereka belum mati.
Lalu apa yang dilakukan pasukan? 
Saya masih agak di bawah (bukit), dekat dengan Pak Yunus (Mayjen Purn. Yunus Yosfiah, saat itu kapten, komandan tim). Kami dilapori ada orang asing tertangkap. Pak Yunus memerintahkan saya untuk melapor ke Pak Dading (Letjen Purn. Dading Kalbuadi, saat itu komandan), yang ada di perbatasan. Kalau tak salah, Pak Dading lalu mengontak Jakarta, menanyakan orang-orang ini mau diapakan.
Jadi, tidak benar kelima wartawan itu terbunuh dalam kontak senjata antara pasukan TNI dan Fretilin? 
Waktu pertama kali tertangkap, mereka masih hidup. Kami kepung, lalu kami todongkan senjata. Saya melihat itu dari jarak sekitar 30 meter di bawah bukit. Mereka memang ada di (rumah) persembunyian, dan membuat film dari ketinggian situ. Sesekali ada tembakan dari arah situ juga. Sehingga kami mengarah ke sana dan mengepung rumah itu.
Apa yang kemudian terjadi? 
Situasi serba salah. Kalau ditangkap, nanti ketahuan yang menangkap tentara Indonesia. Kalau mau dieksekusi, juga bagaimana. Pada saat itulah, ketika tentara kita sudah santai, sudah duduk-duduk, mendadak ada tembakan lagi dari arah dekat situ. Mungkin ada yang mau menyelamatkan mereka (lima wartawan itu). Anggota kita langsung memberondong ke sana... pada mati semua itu wartawan.
Kapan tepatnya penembakan terjadi? 
Kami masuk Balibo ketika sudah mau fajar, subuh. Tapi, saat kejadian, sudah agak siang, mungkin pukul 10-11 pagi.
Ketika penembakan terjadi, apa ada perintah dari Yunus Yosfiah atau Dading Kalbuadi? 
Belum. Dari komandan tim, Pak Yunus, belum ada perintah untuk membunuh atau diapakan mereka. Pak Dading masih menunggu petunjuk dari Jakarta. Komunikasi saat itu kan butuh waktu cukup lama. Jadi penembakan terjadi setelah kami terpancing, akibat ada provokasi tembakan dari arah rumah tempat mereka bersembunyi.
Apakah ada proses identifikasi terhadap kelima wartawan? Ditanya namanya siapa, dan seterusnya.... 
Tidak. Karena mereka tak ada yang bisa berbahasa Indonesia, sementara pasukan di lapangan juga tak bisa berbahasa Inggris.
Tapi tentara tahu atau tidak bahwa mereka wartawan? 
Sepatutnya tahu. Karena mereka membawa kamera dan peralatan lain. Dari jarak dekat, seharusnya semua itu terlihat. Penembakan terjadi dari jarak kira-kira 15 meter.
Sebelum masuk Balibo, apakah pasukan tahu di kota itu ada lima wartawan asing? 
Tidak tahu. Makanya kami jadi bingung saat mereka tertangkap. Mereka ini mau diapain.
Lalu apa yang terjadi setelah penembakan? 
Pak Dading datang ke lokasi. Lalu ada wartawan TVRI, Hendro Subroto. Pak Dading bicara dengan komandan saya, Pak Yunus.
Bagaimana suasana pasukan saat itu? Apakah pelaku penembakan ini dipersalahkan karena bertindak tanpa perintah atau bagaimana? 
Mungkin suasananya serba salah bagi kami. Kalau mereka tetap kami tahan, tidak dieksekusi, begitu keluar, mereka bisa berteriak, "Betul itu, yang menangkap saya orang Indonesia." Itu bisa jadi bukti. Maka mungkin sulit membuat keputusan saat itu. Mungkin, saat itu, dari atas dinilai itu (penembakan) jalan terbaik. Saya tidak tahu persis. Kalau tak dieksekusi, mereka bisa memberikan kesaksian bahwa betul ada invasi tentara Indonesia.
Jadi penembakan itu sebuah keputusan rasional? 
Iya.... Tapi juga ada provokasi berupa tembakan-tembakan. 
Tembakan-tembakan itu menambah tekanan pada pasukan di lapangan untuk mengambil keputusan dengan cepat? 
Iya. Apalagi belakangan ada sepucuk senjata Thompson yang ditemukan di rumah itu. Tergeletak di antara mereka (kelima wartawan). 
Lalu apa yang dilakukan selanjutnya? 
Jenazah kelima wartawan ini dibawa ke rumah Cina di dalam Kota Balibo, sekitar 300 meter dari lokasi penembakan. Lokasinya agak masuk ke kota. Rumahnya terbuka begitu. Kemudian di sana, jenazah dibakar dengan sekam, bekas gabah.
Kenapa harus pakai sekam? 
Iya, karena baranya lama. Jadi dibakar sampai hancur dan betul-betul habis (jenazahnya). Itu perlu dua hari. Ada pakai kayu bakar juga.
Mengapa jenazah harus dibakar? Bukannya itu malah menambah kesan pasukan berusaha menutupi jejak penembakan? 
Karena memang serba salah saat itu. Kami menjaga agar keterlibatan tentara Indonesia ketika itu jangan sampai terbuka. Karena itu, kami masuk tak berpakaian seragam, secara tertutup, preman. Makanya mungkin pernah dengar, ada yang namanya pasukan blue jeans. Rambut kami gondrong, panjang-panjang.
Siapa yang memerintahkan dibakar? 
Yah, memang ada keputusan dari ini... (bergumam tidak jelas). Saya tak tahu persis, saya cuma perwira muda waktu itu. Tapi posisi kami serba salah. Kalau dibiarkan hidup, mereka akan bilang ini invasi Indonesia. Kalau mati dan dibiarkan, akan ada bukti kalau mereka tertembak di wilayah yang dikuasai gerilyawan Indonesia. Untuk gampangnya, kita hilangkan saja. Kita bilang kita tak tahu apa-apa. Itu reaksi spontan saat itu.
Selain pasukan TNI, siapa lagi yang ada di Balibo saat itu? 
Yang masuk saat itu bukan cuma Tim Susi (tim perintis), tapi sudah gabungan dengan partisan Apodeti dan UDT yang pro-Indonesia. Ada tokoh Apodeti, Thomas Gonzalves; dan tokoh dari UDT, Joan Tabarez. Perbandingan jumlah kami dengan Apodeti dan UDT waktu itu sekitar satu banding dua. Kami berlima puluh, mereka seratusan.
Pada saat penyerbuan, ada bantuan dari kapal perang Indonesia? 
Saya kira ada, memang saat kita masuk Balibo, kami dibantu tembakan dari kapal kita di laut.
Mengapa Balibo yang diserbu pertama kali? 
Balibo bukan yang pertama. Kami sudah masuk cukup jauh ketika itu, tapi kami sesekali terdesak mundur lagi, lari ke Haikesak (desa kecil di dekat perbatasan dengan Indonesia), mundur ke Atambua. Setelah mendapat perkuatan dari UDT dan Apodeti, kami masuk lagi. Pasukan sudah dipersiapkan pada akhir 1974. Seharusnya saat itu kami sudah masuk sampai Dili, menyiapkan dropping zone dan penunjang lain untuk penyerbuan pasukan besar. Misalnya menanam amunisi di daerah tertentu.
Bagaimana situasi Kota Balibo ketika Anda masuk? 
Balibo itu kota kecil, dengan beberapa bangunan sederhana. Ada empat-lima rumah batu, tapi yang besar cuma satu itu saja: tokonya orang Cina. Ada juga rumah untuk pusat layanan kesehatan. Di banyak daerah perbatasan dengan Indonesia, di Timor bagian barat, seperti Balibo dan desa-desa di dekatnya, sebetulnya ada lebih banyak simpatisan Apodeti. Orang-orangnya lebih pro-Indonesia. Lain dengan ujung timur sana, yang memang tak terjamah pasukan kita dan dikuasai Fretilin.
Ketika bertugas di Timor Timur, kabarnya Anda menjalin hubungan dekat dengan Xanana Gusmao? 
Saya mulai mendekati Xanana setelah operasi pagar betis yang dilakukan pada zaman Pak Sahala (Letjen Purnawirawan Adolf Sahala Rajagukguk, terakhir Wakil Kepala Staf TNI AD) pada 1981. Setelah operasi itu, TNI yakin Fretilin sudah porak-poranda dan dilaporkan sudah hancur. Akhirnya semua anggota pasukan Kopassus TNI ditarik dari Timor, disisakan hanya dua kompi, hanya Nanggala 51 dan 52.
Setelah pasukan Indonesia ditarik, mereka melakukan konsolidasi dan menyerang lagi. Saya nungging terus setiap malam. Saya lalu berpikir, kalau tiarap terus begini bagaimana. Akhirnya saya membuka kontak komunikasi dengan Xanana. Dia menyambut. Buat Xanana juga, mungkin ada baiknya, karena saat itu dia sudah mulai memikirkan jika penyelesaian perang ini bisa dengan jalan politik, kenapa tidak. Itu pada 1982-1983. 
Apa yang dikatakan Xanana? 
Awalnya dia formal sekali. Kami berbicara dalam bahasa Tetum. Dia selalu menekankan kepada saya: Indonesia tak akan kuat mendanai perang di Timor terus-menerus.
Hubungan itu berlanjut? 
Ya, kami cukup dekat sampai sekarang. Kami sering kontak-kontakan. Sejak di hutan, saya satu-satunya perwira Kopassus yang bisa bertemu dia. Jadi sekarang, kalau Timor membutuhkan alat intelijen, saya bantu. Pernah sekali, Xanana minta bantuan saya untuk mensterilkan ruang kerjanya.
Beralih ke film Balibo. Apa kesan Anda setelah menyaksikannya? 
Dari awal sampai tengah-tengah (alur film) sebenarnya cukup berimbang. Film itu juga menyalahkan pemerintah Australia, Amerika Serikat, dan Inggris, yang merestui perang di Timor itu. Tapi kejadian-kejadian intinya, seputar penembakan kelima wartawan ini, terlalu didramatisasi, dibumbui. Tak ada yang disiksa. Adegan penyerbuan TNI yang masuk ke Dili juga tak seheboh itu.
Bagaimana pendapat Anda tentang tuntutan mengungkap dan mengadili pelaku kasus Balibo? 
Apakah tidak sudah terlalu lama? Pelakunya pun sudah uzur semua. Apalagi sekarang persoalannya bukan dengan Timor Leste.
Anda termasuk yang menentang referendum di Timor Leste? 
Saya pikir itu keputusan yang tergesa-gesa.
Apakah Anda merasa proses integrasi Timor Timur 1975-1999 adalah ikhtiar yang sia-sia? 
Begini: pada saat itu, komunis sedang kuat-kuatnya di Portugal. Semua daerah jajahannya, yang mau dilepaskan, juga ada pengaruh komunis yang kuat. Maka tak terlalu salah kalau Australia, Amerika Serikat, pada saat itu ngojok-ngojokin (mendorong) Indonesia untuk mengambil alih. Saat itu juga ada konteks Perang Dingin.
Tapi Indonesia memang gagal memenangkan hati rakyat di sana? 
Ketika itu Timor Timur adalah tempat buangan orang-orang birokrat yang dianggap tak becus. Sampai di Timor, tanpa ada pengawasan, para kepala kantor wilayah ini malah menjadi raja-raja kecil. Soal rekrutmen, mereka nepotis: tak mau ambil penduduk setempat, dan memilih mempekerjakan sanak saudaranya dari Jawa. 

Majalah Tempo, 07 Desember 2009. 
Sourse: http://majalah.tempointeraktif.com/
[ baca selengkapnya ....... ]
 
Gudangrusak.com © 2010